Senin, 27 Agustus 2012

Mungkinkah Singkong Menggantikan Beras sebagai Makanan Pokok Masyarakat ?


Mungkinkah Singkong Menggantikan Beras  sebagai Makanan Pokok Masyarakat ?
Oleh: Lies Wahyuni*

I.                    PENDAHULUAN
Sebagaimana kita maklumi bahwa masyarakat kita adalah masyarakat agraris yang sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani. 
Dari 278 juta warga Indonesia menurut BPS (Biro Pusat Statistik) sebagian besar bekerja pada bidang pertanian dan kebanyakan dari itu hanya bekerja sebagai buruh tani. Tentu kita paham betul bahwa bekerja sebagai buruh tani di Indonesia berpenghasilan sangatlah kecil. Jangankan untuk menutupi kebutuhan sekunder, kebutuhan primer saja, seperti kebutuhan untuk makan keluargapun sudah paspasan, bahkan kalau berharap bisa makan dengan pola empat sehat lima sempurna sepertinya masih jauh panggang dari api.
Apalagi di masyarakat kita sekarang, para petani atau buruh tani yang hanya bertumpu pada bertanam padi dengan luas lahan persawahan yang sangat terbatas sepertinya akan jauh dari sejahtera. Dengan biaya produksi yang sangat tinggi, kalau mereka menggarap lahan pertanian milik orang lain, mereka harus membiayai semua cost produksi seperti pupuk, ongkos menggarap lahan dll, sementara hasilnya mereka harus bagi dengan pemilik lahan. Kalau dihitung-hitung tenaga mereka sangat jauh dari standar upah minimum yang berlaku di daerahnya sekalipun.
Barangkali apabila ada upaya untuk mengganti pola kebiasaan makanan pokok beras dengan nasi yang berbahan baku singkong bisa menjadi solusi peningkatan kesejahteraan mereka.
II.                  KONDISI UMUM
Seperti telah kita ketahui betapa sulitnya pemerintah mengupayakan swasembada pangan di negeri ini dengan makanan pokok beras.  Sebagai bahan makanan pokok, beras memang tergolong cukup mahal.
 Harga beras di Indonesia lebih mahal ketimbang harga beras dunia, itu disebabkan proses menanam padi hingga menjadi butir-butir beras yang memerlukan biaya yang tidak sedikit. Seperti biaya untuk pupuk, penggarapan dan lain sebagainya.  Sementara hasilnya buat petani yang tergolong kecil itu tidak memadai, apalagi kalau hanya mengandalkan hidup dengan bercocok tanam padi tersebut.
Belum lagi, kalau kita perhatikan banyak lahan persawahan yang beralih fungsi menjadi lahan perumahan dan industri, sedangkan tanaman padi dengan produksi yang baik dan berkualitas umumnya hanya  bisa ditanam di lahan persawahan, hal itu yang membuat para petani menjadi pesimis, apatis dan hanya pasrah saja atas kesulitan hidup yang dihadapi. Sementara itu yang terjadi apabila musim panen raya padi tiba, harga jualnya menjadi turun dan sebaliknya apabila musim paceklik harga beras membumbung tinggi. Padahal keluarga petani miskinpun tetap berharap makan nasi yang bersumber dari padi. Hal itu yang menjadikan kehidupan keluarga para petani di Indonesia menjadi semakin sulit.
III.                SOLUSI
Sebagai sebuah solusi, kita bisa membudayakan bahan makanan yang berbahan baku singkong menjadi substitusi beras sebagai bahan makanan pokok masyarakat, dengan pertimbangan:
1.      Umbi akar singkong banyak mengandung glukosa dan karbohidrat yang berperan sebagai sumber energi yang diperlukan oleh tubuh kita untuk beraktiifitas secara normal. Sama saja dengan beras yang memiliki kandungan nutrisi tersebut. Beras mengandung 363 kalori per 100 gram, ubi kayu (singkong) mengandung 154 kalori per 100 gram, sementara ubi jalar mengandung 139 kalori per 100 gram. Dengan pertimbangan murah dan mudah didapat, apabila singkong dijadikan bahan makanan pokok masyarakat, sebenarnya kita tidak perlu khawatir untuk kehilangan manfaat.
2.      Biaya produksi menanam tanaman singkong yang murah dan mudah juga bisa menjadi alasan utama. Apabila memanen singkong berumur tanam delapan bulan bisa menhasilkan 15 ton/Ha sudah cukup menguntungkan, apalagi kalau hasil produksinya mencapai 100 ton/Ha. Caranya juga sederhana, dengan kita menanam bibit ketela pohon batang bawah dengan varietas unggul seperti darul hidayah dan mentega apalagi bila ditambah mata tempel singkong karet di lahan yang sudah dibantu pupuk kandang atau pupuk organik, tanaman singkong bisa kita panen 15 kg – 50 kg per pohon. Dengan teknologi biasa bisa juga kita meningkatkan produksi yang “spectakuler”, lahan dipupuk dengan pupuk organik 8 ton/Ha dan pada saat musim kemarau diairi 2 kali/minggu. Dengan teknologi pupuk organik dan pengairan produksi dapat mencapai 50 ton/ha.  Maka dari itu, harga singkong dibandingkan dengan harga beras sangat jauh berbeda. Pada umumnya harga singkong hanya 400 rupiah perkilogram sedangkan beras mencapai 6000 rupiah perkilogram. Bisa dibayangkan keuntungan memproduksi singkong dan mengganti pola makan berbahan pokok beras dengan bahan pokok singkong dapat menaikan derajat petani kecil dan mensejahterakan ekonomi masyarakat. Karena tidak bergantung kepada fluktuatifnya harga beras dan bertanam padi yang dirasa kurang menguntungkan.
3.      Singkong tidak bergantung pada lahan persawahan, singkong bisa tumbuh dimana saja. Pada umumnya para petani bisa menanam singkong  di lahan persawahan, lahan perkebunan, bahkan di lahan pekarangan. Lain halnya padi yang hanya bisa tumbuh baik dan berkualitas di lahan persawahan saja. Dengan begitu, keluarga para petani tidak harus merasa khawatir kelaparan, bahkan kesejahteraannya bisa meningkat.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A.     KESIMPULAN
1.      Beras sebagai bahan pokok masyarakat semakin mahal dan tidak menguntungkan petani.
2.      Salah satu solusi menggantikan beras sebagai bahan makanan pokok masyarakat adalah singkong.
3.      Unsur nutrisi yang ada pada beras tidak jauh berbeda dengan unsur nutrisi yang ada singkong.
4.      Singkong bisa di produksi petani dengan mudah  dan murah.
5.      Singkong bisa menjadi substitusi untuk menggantikan beras sebagai bahan makanan pokok.

B.      SARAN
Selanjutnya, pada akhir tulisan ini penulis menyarankan agar ada penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan nasi yang enak dimakan tetapi berbahan pokok singkong.


*)Penulis adalah :  Siswi MAdrasah Aliyah Mathla’ul Anwar Pusat Menes
                     Kelas XI SIA 1
Tinggal di Kadu Kombong Menes Pandeglang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar