Mungkinkah Singkong Menggantikan Beras sebagai Makanan Pokok Masyarakat ?
Oleh: Lies Wahyuni*
I.
PENDAHULUAN
Sebagaimana kita maklumi bahwa
masyarakat kita adalah masyarakat agraris yang sebagian besar penduduknya bermatapencaharian
sebagai petani.
Dari 278 juta warga Indonesia menurut
BPS (Biro Pusat Statistik) sebagian besar bekerja pada bidang pertanian dan kebanyakan
dari itu hanya bekerja sebagai buruh tani. Tentu kita paham betul bahwa bekerja
sebagai buruh tani di Indonesia berpenghasilan sangatlah kecil. Jangankan untuk
menutupi kebutuhan sekunder, kebutuhan primer saja, seperti kebutuhan untuk
makan keluargapun sudah paspasan, bahkan kalau berharap bisa makan dengan pola
empat sehat lima sempurna sepertinya masih jauh panggang dari api.
Apalagi di masyarakat kita sekarang,
para petani atau buruh tani yang hanya bertumpu pada bertanam padi dengan luas
lahan persawahan yang sangat terbatas sepertinya akan jauh dari sejahtera.
Dengan biaya produksi yang sangat tinggi, kalau mereka menggarap lahan pertanian
milik orang lain, mereka harus membiayai semua cost produksi seperti pupuk,
ongkos menggarap lahan dll, sementara hasilnya mereka harus bagi dengan pemilik
lahan. Kalau dihitung-hitung tenaga mereka sangat jauh dari standar upah
minimum yang berlaku di daerahnya sekalipun.
Barangkali apabila ada upaya untuk
mengganti pola kebiasaan makanan pokok beras dengan nasi yang berbahan baku
singkong bisa menjadi solusi peningkatan kesejahteraan mereka.
II.
KONDISI UMUM
Seperti telah kita ketahui betapa
sulitnya pemerintah mengupayakan swasembada pangan di negeri ini dengan makanan
pokok beras. Sebagai bahan makanan pokok,
beras memang tergolong cukup mahal.
Harga beras di Indonesia lebih mahal ketimbang
harga beras dunia, itu disebabkan proses menanam padi hingga menjadi
butir-butir beras yang memerlukan biaya yang tidak sedikit. Seperti biaya untuk
pupuk, penggarapan dan lain sebagainya. Sementara hasilnya buat petani yang tergolong
kecil itu tidak memadai, apalagi kalau hanya mengandalkan hidup dengan bercocok
tanam padi tersebut.
Belum lagi, kalau kita perhatikan
banyak lahan persawahan yang beralih fungsi menjadi lahan perumahan dan
industri, sedangkan tanaman padi dengan produksi yang baik dan berkualitas
umumnya hanya bisa ditanam di lahan
persawahan, hal itu yang membuat para petani menjadi pesimis, apatis dan hanya
pasrah saja atas kesulitan hidup yang dihadapi. Sementara itu yang terjadi
apabila musim panen raya padi tiba, harga jualnya menjadi turun dan sebaliknya
apabila musim paceklik harga beras membumbung tinggi. Padahal keluarga petani
miskinpun tetap berharap makan nasi yang bersumber dari padi. Hal itu yang
menjadikan kehidupan keluarga para petani di Indonesia menjadi semakin sulit.
III.
SOLUSI
Sebagai sebuah solusi, kita bisa membudayakan bahan makanan
yang berbahan baku singkong menjadi substitusi beras sebagai bahan makanan
pokok masyarakat, dengan pertimbangan:
1.
Umbi akar singkong banyak mengandung glukosa dan karbohidrat
yang berperan sebagai sumber energi yang diperlukan oleh tubuh kita untuk beraktiifitas
secara normal. Sama saja dengan beras yang memiliki kandungan nutrisi tersebut.
Beras mengandung 363 kalori per 100 gram, ubi kayu
(singkong) mengandung 154 kalori per 100 gram, sementara ubi jalar mengandung
139 kalori per 100 gram. Dengan pertimbangan murah dan mudah didapat, apabila
singkong dijadikan bahan makanan pokok masyarakat, sebenarnya kita tidak perlu
khawatir untuk kehilangan manfaat.
2.
Biaya produksi menanam tanaman singkong yang murah dan mudah
juga bisa menjadi alasan utama. Apabila memanen singkong berumur tanam delapan
bulan bisa menhasilkan 15 ton/Ha sudah cukup menguntungkan, apalagi
kalau hasil produksinya mencapai 100 ton/Ha. Caranya juga sederhana, dengan
kita menanam bibit ketela pohon batang bawah dengan varietas unggul seperti
darul hidayah dan mentega apalagi bila ditambah mata tempel singkong karet di
lahan yang sudah dibantu pupuk kandang atau pupuk organik, tanaman singkong
bisa kita panen 15 kg – 50 kg per pohon. Dengan teknologi biasa bisa juga kita
meningkatkan produksi yang “spectakuler”,
lahan dipupuk dengan pupuk organik 8 ton/Ha dan pada saat musim kemarau diairi
2 kali/minggu. Dengan teknologi pupuk organik dan pengairan produksi dapat
mencapai 50 ton/ha. Maka dari itu, harga
singkong dibandingkan dengan harga beras sangat jauh berbeda. Pada umumnya
harga singkong hanya 400 rupiah perkilogram sedangkan beras mencapai 6000
rupiah perkilogram. Bisa dibayangkan keuntungan memproduksi singkong dan mengganti
pola makan berbahan pokok beras dengan bahan pokok singkong dapat menaikan
derajat petani kecil dan mensejahterakan ekonomi masyarakat. Karena tidak
bergantung kepada fluktuatifnya harga beras dan bertanam padi yang dirasa
kurang menguntungkan.
3.
Singkong tidak bergantung pada lahan persawahan, singkong
bisa tumbuh dimana saja. Pada umumnya para petani bisa menanam singkong di lahan persawahan, lahan perkebunan, bahkan
di lahan pekarangan. Lain halnya padi yang hanya bisa tumbuh baik dan
berkualitas di lahan persawahan saja. Dengan begitu, keluarga para petani tidak
harus merasa khawatir kelaparan, bahkan kesejahteraannya bisa meningkat.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
1.
Beras sebagai bahan pokok masyarakat semakin mahal dan tidak
menguntungkan petani.
2.
Salah satu solusi menggantikan beras sebagai bahan makanan
pokok masyarakat adalah singkong.
3.
Unsur nutrisi yang ada pada beras tidak jauh berbeda dengan
unsur nutrisi yang ada singkong.
4.
Singkong bisa di produksi petani dengan mudah dan murah.
5.
Singkong bisa menjadi substitusi untuk menggantikan beras
sebagai bahan makanan pokok.
B. SARAN
Selanjutnya, pada akhir tulisan ini penulis menyarankan agar
ada penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan nasi yang enak dimakan tetapi
berbahan pokok singkong.
*)Penulis
adalah : Siswi MAdrasah Aliyah Mathla’ul
Anwar Pusat Menes
Kelas XI SIA 1
Tinggal di Kadu Kombong Menes
Pandeglang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar