MAKALAH
PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN
DI SUSUN OLEH : RINA “BULOT” M. UTARI
UNIT KEGIATAN MAHASISWA
HIMALA-UNMA
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
ini, shalawat dan salam tercurah kepada nabi Muhammad saw. Dalam makalah ini
penulis mendapatkan judul pemimpin dan kepemimpinan yang diberikan oleh
pemateri yang untuk diajukan salah satu materi Latihan Manajemen Dasar atau
LMD.
Seyogyanya dalam pembuatan makalah ini masih
banyak kekurangan atau kejanggalan baik dari segi isi maupun teknis
penyusunannya. Hal ini karena minimnya pengalaman yang dimiliki penulis.
Oleh karena itu penulis mengharapkan
bimbingan dan saran dari berbagai pihak demi kesempurnaan makalah ini. Demikian
semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan para pembaca umumnya.
Penulis
|
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR ........................................................................... i
DAFTAR
ISI ......................................................................................... ii
BAB
I PENDAHULUAN
I.1
Latar Belakang
Masalah .................................................... 1
1.2
Rumusan
Masalah .............................................................. 1
1.3
Tujuan Penulisan ................................................................. 2
1.4
Ruang
Lingkup..................................................................... 2
BAB
II PEMBAHASAN
II.1
Pengertian Pemimpin dan Hakikat
Kepemimpinan .......... 3
II.2.
Teori Kepemimpinan dan Pengertian Pemimpin
Menurut
Para
Ahli ........................................................... 5
II.
3 Kepemimpinan yang
Melayani ......................................... 13
II.4.
Kepemimpinan Sejati......................................................... 18
BAB
III PENUTUP
III.
1
Kesimpulan ...................................................................... 21
III.2
Saran ................................................................................. 21
Pendapat
pribadi terlampir
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak
dapat hidup sendiri. Dalam hidup, manusia selalu berinteraksi dengan sesama
serta dengan lingkungan. Manusia berkelompok baik dalam kelompok besar maupun
dalam kelompok kecil.
Hidup dalam kelompok tentulah tidak mudah.
Untuk menciptakan kondisi kehidupan yang harmonis anggota kelompok haruslah
saling menghormati dan menghargai. Keteraturan hidup perlu selalu di jaga.
Hidup yang teratur adalah impina setiap insan. Menciptakan dan menjaga
kehidupan yang harmonis adalah tugas manusia.
Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling
tinggi dibanding makhluk Tuhan lainnya. Manusia dianugrahi kemampuan untuk
berfikir, kemampuan untuk memilih dan memilih mana yang baik dan mana yang
buruk. Dengan kelebihan itulah manusia seharusnya mampu mengelola lingkungan
dengan baik.
Tidak hanya lingkungan yang perlu di kelola
dengan baik, kehidupan sosial manusia pun perlu dikelola dengan baik. Untuk
itulah dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas, sumber daya yang
berjiwa pemimpin, paling tidak untuk memimpin dirinya sendiri.
Dengan berjiwa pemimpin manusia akan dapat
mengelola diri, kelompok dan lingkungan dengan baik. Khususnya dalam
penanggulangan masalah yang relative pelik dan sulit. Disinilah dituntut
kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan agar masalah dapat
terselesaikan dengan baik.
1.2.
Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah yang penulis
uraikan, banyak permasalahan yang penulis dapatkan, permasalahan tersebut
antara lain :
- Bagaimana
hakikat menjadi seorang pemimpin?
- Adakah
teori-teori untuk menjadi pemimpin yang baik?
- Apa
dan bagaimana menjadi pemimpin sejati?
1.3
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan karya tulis ini adalah
- Melatih
mahasiswa menyusun paper dalam upaya lebih meningkatkan pengetahuan dan
kreatifitas mahasiswa
- Agar
mahasiswa lebih memahami dan mendalami pokok bahasan khususnya tentang
kepemimpinan dan kearifan lokal.
1.4
Ruang Lingkup
Mengingat keterbatasan waktu dan kemampuan
yang penulis miliki maka ruang lingkup karya tulis ini terbatas pada pembahasan
mengenai pemimpin dan kepemimpinan
BAB II
PEMBAHASAN
II.1
Pengertian Pemimpinan dan Hakikat Kepemimpinan
Dalam kehidupan sehari-hari, baik di
lingkungan keluarga, organisasi, perusahaan sampai dengan pemerintahan sering
kita dengar sebutan pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan. Ketiga kita
tersebut memang memiliki hubungan yang berkaitan satu dengan lainnya.
Beberapa ahli berpendapat tentang pemimpin,
beberapa diantaranya :
- Menurut
Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan, pemimpin adalah seorang dengan wewenang
kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari
pekerjaannya dalam mencapai tujuan
- Menurut
Robert Tanembaum, pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk
mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab,
supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan perusahaan.
- Menurut
Prof. Maccoby. Pemimpin pertama-tama harus seorang yang mampu menumbuhkan dan
mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Pemimpin yang
baik untuk masa kini adalah orang yang religius, dalam artian menerima
kepercayaan etnis dan moral dari berbabagi agama secara kumulatif, kendatipun
ia sendiri mungkin menolak ketentuan gab dan ide ketuhanan yang bertalian.
- Menurut
Lao Tzu, pemimpin yang baik adalah seorang yang membantu mengembangkan orang
lain,sehingga akhirnya mereka tidak lagi memerlukan pemimpinnya itu.
- Menurut
Davis and Filley, Pemimpin adalah seorang yang menduduki suatu posisi manajemen
atau seorang yang melakukan suatu pekerjaan memimpin.
- Sedangkan
menurut Pancasila. Pemimpin harus bersikap sebagai pengasuh yang mendorong,
menuntun, dan membimbing asuhannya.
Dengan kata lain, beberapa asa utama dari kepemimpinan Pancasila adalah :
- Ing
Ngarsa Sung Tuladha : pemimpin harus mampu dengan sifat dan perbuatannya
menjadikan dirinya pola anutan dan ikutan bagi orang-orang yang dipimpinnya.
- Ing
Madya Mangun Karso : pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa
dan berkreasi pada orang-orang yang dibimbingnya.
- Tut
Wuri Handayani : pemimpin harus mampu mendorong orang-orang yang diasuhnya
berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab.
Seorang pemimpin boleh berprestasi tinggi
untuk dirinya sendiri, tetapi itu tidak memadai apabila ia tidak berhasil
menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya.
Dari begitu banyak definisi mengenai pemimpin, dapat penulis simpulkan bahwa :
Pemimpin adalah orang yang mendapat amanah serta memiliki sifat, sikap, dan
gaya yang baik untuk mengurus atau mengatur orang lain.
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang
mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan
bersama. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan
organisasi, memotivasi prilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi
untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Sedangkan kekuasaan adalah kemampuan
untuk mempengaruhi orang lain untuk mau malakukan apa yang diinginkan pihak
lainnya. “The art of influencing and directing meaninsuch away to abatain their
willing abedience, confidence, respect, and loyal cooperation in order to
accomplish the mission”. Kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhi dan
menggerakkan orang-orang sedemikian rupa untuk memperoleh kepatuhan,
kepercayaan, respek, dan kerjasama secara royal untuk menyelesaikan tugas-
Field Manual 22-100.
Kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi
orang lain untuk mau melakukan apa yang diinginkan pihak lainnya. Ketiga kata
yaitu pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan yang dijelaskan sebelumnya
tersebut memiliki keterikatan yang tak dapat dipisahkan. Karena untuk menjadi
pemimpin bukan hanya berdasarkan suka satu sama lainnya, tetapi banyak faktor.
Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria yang tergantung
pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah itu kepribadiannya,
keterampilan, bakat, sifat-sifatnya, atau kewenangannya yang dimiliki yang mana
nantinya sangat berpengaruh terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang akan
diterapkan.
Fungsi pemimpin dalam suatu organisasi tidak
dapat dibantah merupakan sesuatu fungsi yang sangat penting bagi keberadaan dan
kemajuan organisasi yang bersangkutan. Pada dasarnya fungsi kepemimpinan
memiliki 2 aspek yaitu :
- Fungsi
administrasi, yakni mengadakan formulasi kebijaksanaan administrasi dan
menyediakan fasilitasnya
- Fungsi
sebagai Top Manajemen, yakni mengadakan planning, organizing, staffing,
directing, commanding, controlling, dan sebagainya.
II.2
Teori Kepemimpinan dan Pengertian Pemimpin Menurut Para Ahli
Memahami teori-teori kepemimpinan sangat
besar artinya untuk mengkaji sejauh mana kepemimpinan dalam suatu organisasi
telah dapat dilaksanakan secara efektif serta menunjang kepada produktivitas
organisasi secara keseluruhan. Dalam karya tulis ini akan dibahas tentang teori
dan gaya kepemimpinannya.
Seorang pemimpin harus mengerti tentang teori
kepemimpinan agar nantinya mempunyai referensi dalam menjalankan sebuah
organisasi. Beberapa teori tentang kepemimpinan antara lain :
- Teori
Kepemimpinan Sifat (Trait Theory)
Analisa ilmiah tentang kepemimpinan berangkat
dari pemusatan perhatian pemimpin itu sendiri. Teori sifat berkembang pertama
kali di Yunani Kuno dan Romawi yang beranggapan bahwa pemimpin itu dilahirkan,
bukan diciptakan yang kemudian teori ini dikenal dengan “The Greatma Theory”.
Dalam perkembangannya, teori ini mendapat pengaruh dari aliran prilaku pemikir
psikologi yang berpandangan bahwa sifat-sifat kepemimpinan tidak seluruhnya
dilahirkan akan tetapi juga dapat dicapai melalui pendidikan dan pengalaman.
Sifat-sifat itu antara lain : sifat fisik, mental, dan kepribadian.
Keith Devis merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh
terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi, antara lain :
- Kecerdasan
Berdasarkan hasil penelitian, pemimpin yang
mempunyai kecerdasan yang tinggi di atas kecerdasan rata-rata dari pengikutnya
akan mempunyai kesempatan berhasil yang lebih tinggi pula. Karena pemimpin pada
umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan
pengikutnya.
- Kedewasaan
dan Keluasan Hubungan Sosial
Umumnya di dalam melakukan interaksi sosial
dengan lingkungan internal maupun eksternal, seorang pemimpin yang berhasil
mempunyai emosi yang matang dan stabil. Hal ini membuat pemimpin tidak mudah
panik dan goyah dalam mempertahankan pendirian yang diyakini kebenarannya.
- Motivasi
Diri dan Dorongan Berprestasi
Seorang pemimpin yang berhasil umumnya
memiliki motivasi diri yang tinggi serta dorongan untuk berprestasi. Dorongan
yang kuat ini kemudian tercermin pada kinerja yang optimal, efektif dan
efisien.
- Sikap
Hubungan Kemanusiaan
Adanya pengakuan terhadap harga diri dan kehormatan
sehingga para pengikutnya mampu berpihak kepadanya.
·
Teori Kepemimpinan Prilaku dan Situasi
Berdasarkan penelitian, prilaku seorang
pemimpin yang mendasarkan teori ini memiliki kecenderungan ke arah 2 hal
- Pertama
yang disebut dengan konsiderasi yaitu kecenderungan seorang pemimpin yang
menggambarkan hubungan akrab dengan bawahan. Contoh gejala yang ada dalam hal
ini seperti : membela bawahan, memberi masukan kepada bawahan dan bersedia
berkonsultasi dengan bawahan.
- Kedua
disebut struktur inisiasi yaitu kecenderungan seorang pemimpin yang memberikan
batasan kepada bawahan. Contoh yang dapat dilihat, bawahan mendapat instruksi
dalam pelaksanaan tugas, kapan, bagaimana pekerjaan dilakukan, dan hasil yang
akan dicapai.
Jadi, berdasarkan teori ini, seorang pemimpin yang baik
adalah bagaimana seorang pemimpin yang memiliki perhatian yang tinggi kepada
bawahan dan terhadap hasil yang tinggi pula.
·
Teori kewibawaan Pemimpin
Kewibawaan merupakan faktor penting dalam
kehidupan kepemimpinan, sebab dengan faktor itu seorang pemimpin akan dapat
mempengaruhi prilaku orang lain baik secara perorangan maupun kelompok sehingga
orang tersebut bersedia untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh pemimpin.
·
Teori Kepemimpinan Situasi
Seorang pemimpin harus merupakan seorang pendiagnosa yang
baik dan harus bersifat fleksibel, sesuai dengan perkembangan dan tingkat
kedewasaan bawahan.
·
Teori Kelompok
Agar tujuan kelompok (organisasi) dapat tercapai, harus
ada pertukaran yang positif antara pemimpin dengan pengikutnya.
Dari adanya berbagai teori kepemimpinan
diatas, dapat diketahui bahwa teori kepemimpinan tertentu akan sangat
mempengaruhi gaya kepemimpinan (Leadership Style), yakni pemimpin yang
menjalankan fungsi kepemimpinannya dengan segenap filsafat, keterampilan dan
sikapnya. Gaya kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin bersikap,
berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain dalam mempengaruhi orang
untuk melakukan sesuatu . gaya tersebut bisa berbeda-beda atas dasar motivasi,
kuasa ataupun orientasi terhadap tugas atau orang tertentu. Di antara beberapa
gaya kepemimpinan , terdapat pemimpin yang positif dan negative, dimana
perbedaan itu didasarkan pada cara dan upaya mereka memotivasi karyawan.
Apabila pendekatan dalam pemberian motivasi ditekankan pada imbalan atau reward
(baik ekonomis maupun non ekonomis) berarti telah digunakan gaya kepemimpinan
yang positif. Sebaliknya jika pendekatannya menekankan pada hukuman atau
punishment, berarti dia menerapkan gaya kepemimpinan negative. Pendekatan kedua
ini dapat menghasilkan prestasi yang diterima dalam banyak situasi, tetapi
menimbulkan kerugian manusiawi.
Selain gaya kepemimpinan di atas masih terdapat gaya
lainnya :
·
Otokratis
Kepemimpinan seperti ini menggunakan metode
pendekatan kekuasaan dalam mencapai keputusan dan pengembangan strukturnya.
Kekuasaan sangat dominant digunakan. Memusatkan kekuasaan dan pengambilan
keputusan bagi dirinya sendiri, dan menata situasi kerja yang rumit bagi
pegawai sehingga mau melakukan apa saja yang diperintahkan. Kepemimpinan ini
pada umumnya negative, yang berdasarkan atas ancaman dan hukuman. Meskipun
demikian ada juga beberapa manfaatnya antaranya memungkinkan pengambilan
keputusan dengan cepat serta memungkinkan pendayagunaan pegawai yang kurang
kompeten.
·
Partisipasif
Lebih banyak mendesenteralisasikan wewenang
yang dimilikinya sehingga keputusan yang diambil tidak bersifat sepihak
·
Demokrasi
Ditandai adanya suatu struktur yang
pengembangannya menggunakan pendekatan pengambilan keputusan yang kooperatif.
Dibawah kepemimpinan pemimpin yang demokrasi cenderung bermoral tinggi dapat
berkerjasama. Mengutamakan mutu kerja dana dapat mengarahkan diri sendiri..
·
Kendali Bebas
Pemimpin memberikan kekuasaan penuh terhadap
bawahan, struktur organisasi bersifat longgar dan pemimpin bersifat pasif.
Yaitu pemimpin menghindari kuasa dan tanggung jawab, kemudian menggantungkannya
kepada kelompok baik dalam menetapkan tujuan dan menanggulangi masalahnya
sendiri.
Dilihat dari orientasi si pemimpin,
Terdapat dua gaya kepemimpinan yang
diterapkan yaitu gaya konsideral dan struktur, atau dikenal juga sebagai
orientasi pegawai dan orientasi tugas. Beberapa hasil penelitian para ahli
menunjukkan bahwa prestasi dan kepuasan kerja pegawai dapat ditingkatkan
apabila konsiderasi merupakan gaya kepemimpinan yang dominant, sebaliknya para
pemimpin yang berorientasi tugas yang terstruktur, percaya bahwa mereka
memperoleh hasil dengan tetap membuat orang-orang sibuk dan mendesak mereka
untuk berproduksi.
Pemimpin yang positif, partisipatif dan
berorientasi konsiderasi, tidak selamanya merupakan pemimpinnya terbaik.,
fiedler telah mengembangkan suatu model pengecualian dari ketiga gaya
kepemimpinan diatas, yakni model kepemimpinan kontigennis. Model ini nyatakan
bahwa gaya kepemimpinan yang paling sesuai bergantung pada situasi dimana pemimpin
bekerja dengan teorinya ini, fiedler ingin menunjukkan bawah keefektifan
ditunjukkan oleh interaksi antara orientasi pegawai dengan 3 variabel yang
berkaitan dengan pengikut, tugas dan organisasi. Ketiga variabel itu adalah
hubungan antara pemimpin dengan anggota (leader member rolations), struktur
tugas (task structure). Dan kuasa posisi pemimpin (leader position power).
Variable pertama ditentukan oleh pengakuan atau penerimaan (akseptabilitas)
pemimpin oleh pengikut, variabel kedua mencerminkan kadar diperlukannya cara
spesifik untuk melakukan pekerjaan, variabel ketiga menggambarkan kuasa
organisasi yang melekat pada posisi pemimpin.
Model kontingensi Fiedler ini serupa dengan
gaya kepemimpinan situasional dari Hersey dan Blanchard. Konsepsi kepemimpinan
situasional ini melengkapi pemimpin dengan pemahaman dari hubungan antara gaya
kepemimpinan yang efektif dengan tingkat kematangan (muturity) pengikutnya.
Prilaku pengikut atau bawahan ini amat penting untuk mengetahui kepemimpinan
situasional, karena bukan saja pengikut sebagai individu bisa menerima atau
menolak pemimpinnya, akan tetapi sebagai kelompok pengikut dapat menemukan
kekuatan pribadi apapun yang dimiliki pemimpin.
Menurut Hersey dan Blanchard (dalam Ludlow
dan Panton, 1996: 18 dst), masing-masing gaya kepemimpinan ini hanya memadai
dalam situasi yang tepat meskipun disadari bahwa setiap orang memiliki gaya
yang disukainya sendiri dan sering merasa sulit untuk mengubahnya meskipun
perlu.
Banyak studi yang sudah dilakukan untuk
melihat gaya kepemimpinan seseorang. Salah satunya yang terkenal adalah yang
dikemukakan oleh Blanchard, yang mengemukakan 4 gaya dari sebuah kepemimpinan.
Gaya kepemimpinan ini dipengaruhi oleh bagaimana cara seorang pemimpin
memberikan perintah, dan sisi lain adalah cara mereka membantu bawahannya.
Keempat gaya tersebut adalah
- Directing
Gaya tepat apabila kita dihadapkan dengan
tugas yang rumit dan staf kita belum memiliki pengalaman dan motivasi untuk
mengerjakan tugas tersebut. Atau apabila anda berada dibawah tekanan waktu
penyelesaian. Kita menjelaskan apa yang perlu dan apa yang harus dikerjakan.
Dalam situasi demikian, biasanya terjadi over-communicating (penjelasan
berlebihan yang dapat menimbulkan kebingungan dan pembuangan waktu). Dalam
proses pengambilan keputusan, pemimpin memberikan aturan – aturan dan proses
yang detail kepada bawahan. Pelaksanaan dilapangan harus menyesuaikan dengan
detil yang sudah dikerjakan.
- Coaching
Pemimpin tidak hanya memberikan detil proses
dan aturan kepada bawahan tetapi juga menjelaskan mengapa sebuah keputusan itu
diambil, mendukung proses perkembangannya, dan juga menerima berbagai masukan
dari bawahan. Gaya yang tepat apabila staf kita telah lebih termotivasi dan
berpengalaman dalam menghadapi suatu tugas. Di sini kita perlu memberikan
kesempatan kepada mereka untuk mengerti tentang tugasnya, dengan meluangkan
waktu membangun hubungan dan komunikasi yang baik dengan mereka.
- Supporting
Sebuah gaya dimana pemimpin memfasilitasi dan
membantu supaya bawahannya dalam melakukan tugas. Dalam hal ini pemimpin tidak
memberikan arahan secara detail, tetapi tanggung jawab dan proses pengambilan
keputusan dibagi bersama dengan bawahan. Gaya ini akan berhasil apabila
karyawan telah mengenal teknik-teknik yang dituntut dan telah mengembangkan
hubungan yang lebih dekat dengan anda. Dalam hal ini kita perlu meluangkan
waktu untuk berbincang-bincang, untuk lebih melibatkan mereka dalam pengambilan
keputusan kerja, serta mendengarkan saran-saran mereka mengenai peningkatan
kinerja.
- Delegating
Sebuah gaya dimana seorang pemimpin
mendelegasikan seluruh wewenang dan tanggung jawabnya kepada bawahan. Gaya
delegating akan berjalan baik apabila staf kita sepenuhnya telah paham dan
efisien dalam pekerjaan, sehingga kita dapat melepas mereka menjalankan tugas
atau pekerjaan itu atas kemampuan dan inisiatifnya sendiri.
Keempat gaya ini tentu saja mempunyai
kelemahan dan kelebihan, serta sangat tergantung dari lingkungan di mana
seorang pemimpin berada, dan juga kesiapan dari bawahannya. Maka kemudian
timbul apa yang disebut sebagai “situational leadership”. Situational
leadership mengidentifikasikan bagaimana seorang pemimpin harus menyesuaikan
keadaan dari orang-orang yang dipimpinnya.
Di tengah-tengah dinamika organisasi (yang
antara lain diindikasikan oleh adanya prilaku staf / individu yang
berbeda-beda), maka untuk mencapai efektivitas organisasi, penerapan keempat
gaya kepemimpinan di atas perlu disesuaikan dengan tuntutan keadaan. Inilah
yang dimasud dengan situasional leadership, sebagaimana telah disinggung di
atas, yang perlu diperhatikan adalah bahwa untuk dapat mengembangkan gaya
kepemimpinan situasional ini, seseorang perlu memiliki tiga kemampuan khusus
yakni :
- Kemampuan
analitis (analytical skills) yakni kemampuan untuk memiliki tingkat pengalaman
dan motivasi bawahan dalam melaksanakan tugas.
- Kemampuan
untuk fleksibel (fleksibility atau adaptability skills) yaitu kemampuan untuk
menerapkan gaya kepemimpinan yang paling tepat berdasarkan analisa terhadap
situasi
- Kemampuan
berkomunikasi (communication skills) yakni kemampuan untuk menjelaskan kepada
bawahan tentang perubahan gaya kepemimpinan yang kita terapkan.
Ketiga kemampuan di atas sangat dibutuhkan
bagi seorang pemimpin, sebab seorang pemimpin harus dapat
melaksanakan tiga peran utamanya yakni peran interpersonal, peran pengolah
informasi (information processing), serta peran pengambilan keputusan (decision
making) (Gordon, 1996 : 314-315).
Peran pertama meliputi :
- Peran
figurehead => sebagai simbol dari organisasi
- Leader
=> berinteraksi dengan bawahan, memotivasi dan mengembangkannya
- Liaison
=> menjalin suatu hubungan kerja dan menangkap informasi untuk kepentingan
organisasi
Sedangkan peran kedua terdiri dari 3 peran juga yakni :
- Monitior
=> memimpin rapat dengan bawahan, mengawasi publikasi perusahaan, atau
berpartisipasi dalam suatu kepanitiaan
- Diseminator
=> menyampaikan informasi, nilai-nilai baru dan fakta kepada bawahan
- Spokeman
=> juru bicara atau memberikan informasi kepada orang-orang diluar
organisasinya.
Peran ketiga terdiri dari 4 peran yaitu :
- Enterpreneur
=> mendesain perubahan dan pengembangan dalam organisasi
- Disturbance
Handler => mampu mengatasi masalah terutama ketika organisasi sedang dalam
keadaan menurun
- Resources
Allocator => mengawasi alokasi sumber daya manusia, materi, uang dan waktu
dengan melakukan penjadwalan,memprogram tugas-tugas bawahan, dan mengesahkan
setiap keputusan.
- Negotiator
=> melakukan perundingan dan tawar-menawar
Dalam perspektif yang lebih sederhana, Morgan (1996 :
156) mengemukakan 3 macam peran pemimpin yang disebut dengan 3A,yakni :
- Alighting
=> menyalakan semangat pekerja dengan tujuan individunya
- Aligning
=> menggabungkan tujuan individu dengan tujuan organisasi sehingga setiap
orang menuju ke arah yang sama
- Allowing
=> memberikan kelulusan kepada pekerja untuk menantang dan mengubah cara
kerja mereka
Jika saja Indonesia memiliki pemimpin yang
sangat tangguh tentu akan menjadi luar biasa. Karena jatuh bangun kita
tergantung pada pemimpin. Pemimpin memimpin, pengikut mengikuti. Jika pemimpin
sudah tidak bisa memimpin dengan baik, cirinya adalah pengikut tidak mau lagi
mengikuti. Oleh karena itu kualitas kita tergantung kualitas pemimpin kita.
Makin kuat yang memimpin maka makin kuat pula yang dipimpin.
Rahasia utama kepemimpinan adalah kekuatan
terbesar seorang pemimpin bukan dari kekuasaannya, bukan kecerdasannya, tapi
dari kekuatan pribadinya. Maka jika ingin menjadi pemimpin yang baik jangan
pikirkan orang lain, pikirkanlah diri sendiri dulu. Tidak akan bisa mengubah
orang lain dengan efektif sebelum merubah diri sendiri. Bangunan akan bagus,
kokoh, megah, karena ada pondasinya. Maka sibuk memikirkan membangun umat,
membangun masyarakat, merubah dunia akan menjadi omong kosong jika tidak
diawali dengan diri sendiri. Merubah orang lain tanpa merubah diri sendiri
adalah mimpi mengendalikan orang lain tanpa mengendalikan diri.
II.
3 Kepemimpinan yang Melayani
Merenungkan kembali arti makna kepemimpinan,
sering diartikan kepemimpinan adalah jabatan formal, yang menuntut untuk
mendapat fasilitas dan pelayanan dari konstituen yang seharusnya dilayani.
Meskipun banyak diantara pemimpin yang ketika dilantik mengatakan bahwa jabatan
adalah sebuah amanah, namun dalam kenyataannya sedikit sekali atau bisa
dikatakan hampir tidak ada pemimpin yang sungguh-sungguh menerapkan
kepemimpinan dari hati, yaitu kepemimpinan yang melayani.
A. Karakter
Kepemimpinan
Hati yang melayani
Kepemimpinan yang melayani dimulai dari dalam
diri kita. Kepemimpinan menuntut suatu transformasi dari dalam hati dan
perubahan karakter. Kepemimpinan yang melayani dimulai dari dalam dan kemudian
bergerak keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Disinilah pentingnya
karakter dan integritas seorang pemimpin untuk menjadi pemimpin yang diterima
oleh rakyat yang dipimpinnya. Kembali kita saksikan betapa banyak pemimpin yang
mengaku wakil rakyat ataupun pejabat publik, justru tidak memiliki integritas
sama sekali, karena apa yang diucapkan dan di janjikan ketika kampanye dalam
pemilu tidak sama dengan yang dilakukan ketika sudah duduk nyaman dikursinya.
Paling tidak menurut Ken Blanchard dan
kawan-kawan, ada sejumlah ciri-ciri dan nilai yang muncul dari seorang pemimpin
yang memiliki hati yang melayani, yaitu tujuan utama seorang pemimpin adalah
melayani kepentingan mereka yang dipimpinnya. Orientasinya adalah bukan untuk
kepentingan diri pribadi maupun golongan tapi justru kepentingan publik yang
dipimpinnya.
Seorang pemimpin memiliki kerinduan untuk
membangun dan mengembangkan mereka yang dipimpinnya sehingga tumbuh banyak
pemimpin dalam kelompoknya. Hal ini sejalan dengan buku yang ditulis oleh John
Maxwell berjudul Developing the Leaders Around You. Keberhasilan seorang
pemimpin sangat tergantung dari kemampuannya untuk membangun orang-orang
disekitarnya, karena keberhasilan sebuah organisasi sangat tergantung pada
potensi sumber daya manusia dalam organisasi tersebut. Jika sebuah organisasi
atau masyarakat mempunyai banyak anggota dengan kualitas pemimpin, organisasi
atau bangsa tersebut akan berkembang dan menjadi kuat.
Pemimpin yang melayani memiliki kasih dan
perhatian kepada mereka yang dipimpinnya. Kasih itu mewujud dalam bentuk
kepedulian akan kebutuhan, kepentingan, impian dan harapan dari mereka yang
dipimpinnya.
Seorang pemimpin yang memiliki hati yang
melayani adalah akuntabilitas (accountable). Istilah akuntabilitas adalah berarti
penuh tanggung jawab dan dapat diandalkan, artinya seluruh perkataan, pikiran
dan tindakannya dapat dipertanggung jawabkan kepada publik atau kepada sikap
anggota organisasinya.
Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang
mau mendengar. Mau mendengar setiap kebutuhan, impian, dan harapan dari mereka
yang dipimpin. Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang dapat mengendalikan
ego dan kepentingan pribadinya melebihi kepentingan publik atau mereka yang
dipimpinnya. Mengendalikan ego berarti dapat mengendalikan diri ketika tekanan
maupun tantangan yang dihadapi menjadi begitu berat, selalu dalam keadaan
tenang, penuh pengendalian diri, dan tidak mudah emosi.
B. Metode
Kepemimpinan
Kepala Yang Melayani
Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki
hati atau karakter semata, tapi juga harus memiliki serangkaian metode
kepemimpinan agar dapat menjadi pemimpin yang efektif. Banyak sekali pemimpin
memiliki kualitas sari aspek yang pertama yaitu karakter dan integritas seorang
pemimpin, tetapi ketika menjadi pimpinan formal, justru tidak efektif sama
sekali karena tidak memiliki metode kepemimpinan yang baik. Contoh adalah para
pemimpin yang diperlukan untuk mengelola mereka yang dipimpinnya.
Tidak banyak pemimpin yang memiliki metode
kepemimpinan ini. Karena hal ini tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah
formal. Keterampilan seperti ini disebut dengan Sofa skill atau personal skill.
Dalam salah satu artikel di economist.com ada sebuah ulasan berjudul Can
Ladership Be Taught, dibahas bahwa kepemimpinan (dalam hal ini metode
kepemimpinan) dapat diajarkan sehingga melengkapi mereka yang memiliki karakter
kepemimpinan. Ada 3 hal penting dalam metode kepemimpinan, yaitu :
- Kepemimpinan
yang efektif dimulai dengan visi yang jelas, visi ini merupakan sebuah daya
atau kekuatan untuk melakukan perubahan, yang mendorong terjadinya proses
ledakan kreatifitas yang dahsyat melalui integrasi maupun sinergi berbagai
keahlian dari orang-orang yang ada dalam organisasi tersebut. Bahkan dikatakan
bahwa nothing motivates change more powerfully than a clear vision. Visi yang
jelas dapat secara dahsyat mendorong terjadinya perubahan dalam organisasi.
Seorang pemimpin adalah inspirator perubahan dan visioner yaitu memiliki visi
yang jelas kemana organisasinya akan menuju. Kepemimpinan secara sederhana
adalah proses untuk membawa orang-orang atau organisasi yang dipimpin menuju
suatu tujuan yang jelas. Tanpa visi, kepemimpinan tidak ada artinya sama
sekali. Visi inilah yang mendorong sebuah organisasi untuk senantiasa tumbuh dan
belajar serta berkembang dalam mempertahankan survivalnya sehingga bisa
bertahan sampai beberapa generasi. Ada 2 aspek mengenai visi, yaitu visionary
role dan impelementation role. Artinya seorang pemimpin tidak hanya dapat
membangun atau menciptakan visi bagi organisasinya tapi memiliki kemampuan
untuk mengimplementasikan visi tersebut ke dalam suatu rangkaian tindakan atau
kegiatan yang diperlukan untuk mencapai visi itu.
- Seorang pemimpin yang
efektif adalah seorang yang responsive. Artinya dia selalu tanggap terhadap
setiap persoalan, kebutuhan, harapan, dan impian dari mereka yang dipimpin.
Selain itu selalu aktif dan praktif dalam mencari solusi dari setiap
permasalahan ataupun tantangan yang dihadapi.
- Seorang pemimpin yang efektif adalah seorang
pelatih atau pendamping bagi orang-orang yang dipimpinnya (performance coach).
Artinya dia memiliki kemampuan untuk menginspirasi, mendorong dan menampakkan
anak buahnya dalam menyusun perencanaan (termasuk rencana kegiatan, target atau
sasaran, rencana kebutuhan sumber daya, dsb), melakukan kegiatan sehari-hari
sehari-hari seperti monitoring dan pengendalian, serta mengevaluasi kinerja
dari anak buahnya.
C. Prilaku
Kepemimpinan
Tangan yang melayani
Pemimpin yang melayani bukan sekedar
memperlihatkan karakter dan integritas, serta memiliki kemampuan metode
kepemimpinan tapi dia harus menunjukkan prilaku maupun kebiasaan seorang
pemimpin. Dalam buku Ken Blanchard disebutkan prilaku seorang pemimpin, yaitu :
- Pemimpin
tidak hanya sekedar memuaskan mereka yang di pimpin, tapi sungguh-sungguh
memiliki kerinduan senantiasa untuk memuaskan Tuhan. Artinya dia hidup dalam
prilaku yang sejalan dengan firman Tuhan. Dia memiliki misi untuk senantiasa
memuliakan Tuhan dalam setiap apa yang dipikirkan, dikatakan, dan diperbuatnya.
- Pemimpin
fokus pada hal-hal spiritual dibandingkan dengan sekedar kesuksesan duniawi.
Baginya kekayaan dan kemakmuran adalah untuk dapat memberi dan beramal lebih
banyak. Apapun yang dilakukan bukan untuk mendapat penghargaan, tapi melayani
sesamanya. Dan dia lebih mengutamakan hubungan atau relasi yang penuh kasih dan
penghargaan, dibandingkan dengan status dan kekuasaan semata.
- Pemimpin
sejati senantiasa mau belajar dan bertumbuh dalam berbagai aspek, baik
pengetahuan, kesehatan, keuangan, relasi, dan sebagainya. Setiap harinya
senantiasa menyelaraskan (recalibrating) dirinya terhadap komitmen untuk
melayani Tuhan dan sesama. Melalui solitude (keheningan), prayer (do’a) dan
scripture (membaca Firman Tuhan).
Demikian kepemimpinan yang melayani menurut
Ken Blanchard yang sangat relevan dengan situasi krisis kepemimpinan yang
dialami oleh bangsa Indonesia. Bahkan menurut Danah Zohar, penulis buku
Spiritual Intelligence : SQ the Ultimated Intellegence, salah satu tolak ukur
kecerdasan spiritual adalah kepemimpinan yang melayani (servant leadership).
Bahkan dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Gay Hendrick dan Kate
Luderman, menunjukkan pemimpin-pemimpin yang berhasil membawa perusahaannya ke
puncak kesuksesan biasanya adalah pemimpin yang memiliki SQ yang tinggi. Mereka
biasanya adalah orang-orang yang memiliki integritas, terbuka, mampu menerima
kritik, rendah hati, mampu memahami spiritualitas yang tinggi, dan selalu
mengupayakan yang terbaik bagi diri mereka sendiri maupun bagi orang lain.
II.
4 Kepemimpinan Sejati
Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan
lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau transformasi internal
dalam diri seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan
sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang . ketika
seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri
(inner peace ) lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan
dalam organisasinya. Pada saat itulah seorang lahir menjadi pemimpin sejati.
Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar
melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang.
Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out).
Kepemimpinan sesungguhnya tidak ditentukan
oleh pangkat atau jabatan seseorang. Kepemimpinan adalah sesuatu yang muncul
dari dalam dan merupakan buah dari keputusan seseorang untuk mau menjadi
pemimpin, baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarga, bagi lingkungan pekerjaan,
maupun bagi lingkungan sosial dan bahkan bagi negerinya. “I don’t think you
have to be wearing stars on your shoulders or a title to be leader. Anybody who
want to raise his hand can be a leader any time”. Dikatakan dengan lugas oleh
General Ronal Fogleman. Jenderal angkatan Udara Amerika Serikat yang artinya
Saya tidak berpikir anda menggunakan bintang di bahu anda atau sebuah gelar
pemimpin. Orang lainnya yang ingin mengangkat tangan dapat menjadi pemimpin di
lain waktu.
Sering kali seorang pemimpin sejati tidak
diketahui keberadaannya oleh mereka yang dipimpinnya. Bahkan ketika misi atau
tugas terealisasikan, maka seluruh anggota tim akan mengatakan bahwa merekalah
yang melakukannya sendiri. Pemimpin sejati adalah seorang pemberi semangat
(encourager), motivator, inspirator, dan maximizer.
Konsep pemikiran seperti ini adalah sesuatu
yang baru dan mungkin tidak bisa diterima oleh para pemimpin konvensional yang
justru mengharapkan penghormatan dan pujian (honor & praise) dari mereka
yang dipimpinnya. Semakin dipuji bahkan dikultuskan, semakin tinggi hati dan
lupa dirilah seorang pemimpin. Justru kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan
yang didasarkan pada kerendahan hati (humble).
Pelajaran mengenai kerendahan hati dan
kepemimpinan sejati dapat kita peroleh dari kisah hidup Nelson Mandela. Seorang
pemimpin besar Afrika Selatan, yang membawa bangsanya dari Negara yang rasialis
menjadi Negara yang demokratis dan merdeka. Selama penderitaan 27 tahun penjara
pemerintah Apartheid, justru melahirkan perubahan dalam diri Beliau. Sehingga
Beliau menjadi manusia yang rendah hati dan mau memaafkan mereka yang telah
membuatnya menderita selama bertahun-tahun.
Seperti yang dikatakan oleh penulis buku
terkenal, Keneth Blanchard, bahwa kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan
keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Perubahan karakter adalah
segala-galanya bagi seorang pemimpin sejati. Tanpa perubahan dari dalam, tanpa
kedamaian diri, tanpa kerendahan hati, tanpa adanya integritas yang kokoh, daya
tahan menghadapi kesulitan dan tantangan, dan visi serta misi yang jelas,
seseorang tidak akan pernah menjadi pemimpin sejati.
Sebuah jenis kepemimpinan yaitu Q Leader
memiliki 4 makna terkati dengan kepemimpinan sejati, yaitu :
- Q
Berarti kecerdasan atau intelligence. Seperti dalam IQ berarti kecerdasan
intelektual, EQ berarti kecerdasan emosional, dan SQ berarti kecerdasan
spiritual. Q leader berarti seorang pemimpin yang memiliki kecerdasan IQ, EQ,
SQ yang cukup tinggi.
- Q
leader berarti kepemimpinan yang memiliki kualitas (quality), baik dari aspek
visioner maupun aspek manajerial.
- Q
Leader berarti seorang pemimpin yang memiliki qi ( dibaca ‘chi’ dalam bahasa
Mandarin yang berarti kehidupan).
- Q
Keempat adalah qolbu atau inner self. Seorang pemimpin sejati adalah seorang
yang sungguh-sungguh mengenali dirinya (qolbunya) dan dapat mengelola dan
mengendalikannya (self management atau qolbu management).
Menjadi seorang pemimpin Q berarti menjadi
seorang pemimpin yang selalu belajar dan bertumbuh senantiasa untuk mencapai
tingkat atau kadar Q (intelligence-quality-qi-qolbu) yang lebih tinggi dalam
upaya pencapaian misi dan tujuan organisasi maupun pencarian makna kehidupan
setiap pribadi seorang pemimpin.
Rangkuman kepemimpinan Q dalam 3 aspek
penting yang disingkat menjadi 3C, yaitu:
- Perubahan
karakter dari dalam diri (character chage).
- Visi
yang jelas (clear vision).
- Kemampuan
atau kompetensi yang tinggi (competence).
Ketiga hal tersebut dilandasi oleh suatu
sikap disiplin yang tinggi untuk senantiasa bertumbuh, belajar dan berkembang
baik secara internal (pengembangan kemampuan intrapersonal, kemampuan teknis,
pengetahuan, dan lain-lain) maupun dalam hubungannya dengan orang lain
(pengembangan kemampuan interpersonal dan metode kepemimpinan). Seperti yang
dikatakan oleh John Maxwell. “The only way that I can keep leading is to keep
growing. The the day I stop growing, some body else takes the leadership baton.
That is way it always it. “ssatu-satunya cara agar saya tetap menjadi pemimpin
adalah saya harus senantiasa bertumbuh. Ketika saya berhenti bertumbuh, orang
lain akan mengambil alih kepemimpinan tersebut.
BAB III
PENUTUP
III.1
Kesimpulan
Kata pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan
memiliki keterikatan yang tak dapat dipisahkan. Karena untuk menjadi pemimpin
bukan hanya berdasarkan suka satu sama lainnya, tetapi banyak faktor. Pemimpin
yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria yang tergantung pada sudut
pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah itu kepribadiannya,
keterampilan, bakat, sifat-sifatnya, atau Kewenangannya yang dimiliki yang
dimiliki yang mana nantinya sangat berpengaruh terhadap teori maupun gaya
kepemimpinan yang akan diterapkan.
Rahasia utama kepemimpinan adalah kekuatan
terbesar seorang pemimpin bukan dari kekuasaannya, bukan kecerdasannya, tapi
dari kekuatan pribadinya. Seorang pemimpin sejati selalu bekerja keras
memperbaiki dirinya sebelum sibuk memperbaiki orang lain.
Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan
yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari
dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from
the inside out.).
III.2
Saran
Sangat diperlukan sekali jiwa kepemimpinan
pada setiap pribadi manusia. Jiwa kepemimpinan itu perlu selalu dipupuk dan
dikembangkan. Paling tidak untuk memimpin diri sendiri.
Jika saja Indonesia memiliki pemimpin yang
sangat tangguh tentu akan menjadi luar biasa. Karena jatuh bangun kita
tergantung pada pemimpin. Pemimpin memimpin. Pengikut mengikuti. Jika pemimpin
sudah tidak bisa memimpin dengan baik, cirinya adalah pengikut tidak mau lagi
mengikuti. Oleh karena kualitas kita tergantung kualitas pemimpin kita. Makin
kuat yang memimpin maka makin kuat pula yang dipimpin.
Pendapat saya tentang
“Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa dan mampu memimpin dirinya
sendiri, serta memiliki kecerdasan yang lebih tinggi agar kedewasaan dan
keluasan hubungan sosial dapat lebih matang dan mempunyai emosi yang stabil,
serta memiliki perhatian yang luas terhadap aktivitas-aktivitas sosial dan
dapat memotivasi diri serta dorongan berprestasi.
Bekerja, berusaha dan bersikap tegas untuk
berpikir, berbicara, bertindak, serta berani ,mencoba sudah pasti akan kalah.
Bersikap bijaksana dalam pengambilan
keputusan dan mau mengakui harga diri dan kehormatan para anggotanya dan mampu
berpihak kepada tujuan awal dan berama”.
DAFTAR PUSTAKA
Prilaku Organisasi. Jakarta : Erlangga. Thoha. Miftah.
1983. Kepemimpinan. Jakarta : Rajawali Pers.
Servant leadership atau Kepemimpinan oleh Mememery, SE,
train di PT Philips Inc Jakarta.
Tipe Kepemimpinan. Belajar Psikologi.com.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar